Selasa, November 24, 2009

akhlak

KATA PENGANTAR


Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam makalah ini kami membahas “akhlak” suatu permasalahan yang selalu dialami bagi masyarakat yang beragama islam
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman akhlak yang sangat diperlukan dalam suatu harapan mendapatkan keamanan dalam memanfaatkan teknologi informasi terutama yang menggunakan internet dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mempelajari agma islam.
Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya kami sampaikan :
• Dr. Ir. Budi Rahardjo, selaku dosen mata kuliah “Keamanan Jaringan informasi”
• Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.
• Istri dan anakku yang ditinggalkan demi Negeriku

Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat,









AKHLAK

MACAM MACAM AKHLAK

1. AKHLAK TERPUJI
Akhlak terpuji adalah perbuatan indah yang keluar dari kekuatan jiwa tanpa keterpaksaan, seperti kemurahan hati, lemah lembut, sabar, teguh, dan lain-lain.
Di sini islam menjadi penyeru pada akhlak yang baik dan mengajak kepada pendidikan akhlak di kalangan kaum muslimin, menumbuhkannya didalam jiwa mereka, dan menilai keimanan seorang dengan kemuliaan akhlaknya. Allah menjadikan akhlak yang utama sebagai sarana memperoleh surga yang tinggi.
Allah mengutus RasulNya untuk menyempurnakan akhlak ini, sehingga beliau bersabda,
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Bukhari, Ahmad juga menjelaskan keutamaan akhlak-akhlak yang mulia dalam sabda-sabda yang tidak terhitung, beliau bersabda,
“Tidak ada di dalam suatu timbangan (amal) yang lebih berat dari pada akhlak yang baik.” (H.R. at-Tirmidzi [2003]dan Abu Daud [4799])
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (H.R. al-Bukhari)
“mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang palingbaik akhlaknya.” (H.R. al-Bukhari, [muslim: 2553]).
Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” (H.R. at-Tirmidzi [2018]).
Rasulullah SAW ditanya amal apa yang paling utama? Beliau menjawab,”Akhlak yang baik” [H.R. Ahmad: 17358] juga ditanya tentang apa yang paling banyak memasukan kedalam surga. Beliau menjawab, “yaitu takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (H.R. at-Tirmidzi [2004, dan dihasankannya])
Di antara Sifat-Sifat Terpuji adalah:
1. Sabar dan Tahan Uji
Di antara keindahan akhlak orang-orang islam dalam berhias adalah sabar dan tahan uji karena Allah. Kesabaran adalah menahan jiwa atas hal-hal yang tidak disukai, atau menanggung yang tidak disukai dengan rela dan pasrah.
Seorang muslim menahan jiwanya atas hal yang tidak dia sukai seperti bersusah payah melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah, terus berdisiplin dalam menjalankannya, menahan diri jangan sampai bermaksiat kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Luhur dan sama sekali enggan mendekatinya, meskipun secara naluri nafsunya menginginkan dan tergiur olehnya.
Ia juga menahan jiwanya atas cobaan yang menimpanya, sehingga tidak membiarkan bersedih atau membenci, karena kata ahli hikmah (orang bijak), “kesedihan atas hal yang telah berlalu adalah penyakit, sedangkan kesedihan atas hal yang sedang terjadi akan melemahkan akal”, dan benci kepada takdir adalah mencela Alah Dzat Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.
Karena kesabaran tanpa keluh kesah itu termasuk akhlak yang diusahakan dan diperoleh melalui berbagai macam latihan dan perjuangan, maka seorang muslim selalu amat membutuhkan pertolongan Allah, agar dianugerahi rizki berupa kesabaran dan juga memohon diilhami kesabaran dengan mengingat perintah-perintah yang ada dan pahala yang dijanjikan baginya. Seperti firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Al-Imran: 200).
“Sangatlah menakjubkan perkara orang beriman itu, sesungguhnya urusannya semuanya baik baginya, dan tidak ada yang demikian itu, kecuali bagi orang yang beriman, yaitu bila bencana menimpanya dia bersabar maka itu sangat baik baginya, bila kebahagiaan menghampirinya dia bersyukur, maka itu adalah sangat baik baginya.” (H.R. Muslim [2999]).


1. Akhlak Tercela

Oleh : Anis Matta (dinukil dari buku: Membentuk Karakter Cara Islam)
Akar Penyakit Akhlak
Sebagaimana akhlak terpuji, akhlak tercela juga memiliki akar kemana satuan-satuannya dapat dikelompokkan. Jika akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar penyakit akhlak juga akan selalu ada disana.
Mengenai hal itu, Ibnul Qayyim menyebutkan dua akar penyakit akhlak, yaitu :
Pertama, penyakit syubhat. Penyakit ini menimpa wilayah akal manusia, dimana kebenaran tidak menjadi jelas (samar) dan bercampur dengan kebatilan (talbis). Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia memahami secara baik dan memilih secara tepat.
Kedua, penyakit syahwat. Penyakit ini menimpa wilayah hati dan insting manusia, dimana dorongan kekuatan kejahatan dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan kebaikan. Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk mengendalikan diri dan bertekad secara kuat.
Syhubhat
Lebih jauh lagi, penyakit syubhat sesungguhnya berkaitan dengan pemahaman dasar manusia dan struktur pemikirannya. Akarnya adalah ilmu yang belum sempurna dan mendalam bertemu dengan kecenderungan jiwa untuk menyimpang (zaeghun). Allah SWT berfirman dalam hal ini,
”…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat…” (Ali Imran:7)
Karena itu, akar penyakit ini dapat ditelusuri pada kemampuan dasar manusia dalam memahami; adanya kelemahan logika atau penyalahangunaan logika; ketidakmampuan memahami hakikat sesuatu secara benar; kesalahan metodologis dalam berpikir yang menyebabkan lahrnya kesimpulan yang juga salah; dan penyimpangan pemahaman keagamaan yang menyebabkan lahirnya bid’ah dan aliran sesat.
Orang-orang yang menderita penyakit ini biasanya memiliki keberanian luar biasa terhadap Allah SWT (baca: kebenaran), kegemaran luar biasa untuk berdebat, dan sifat ngotot dalam mempertahankan pendapat sendiri, sekalipun sesungguhnya ia tidak pernah memiliki keyakinan yang kuat dan selalu ragu dalam segala hal.
Lawan dari penyakit ini adalah ilmu yang benar dan mendalam, yang kemudian menimbulkan keyakinan yang kuat yang tidak disertai keraguan.
Pada akhirnya, penyakit syubhat ini melahirkan kekufuran, bid’ah, dan nifaq.
Syahwat
Adapun penyakit syahwat pada umumnya lahir dari lemahnya kehendak hati (iradatul khair) dalam hati seseorang, baik untuk melakukan kebaikan (positif) maupun untuk melawan dorongan kejahatan dalam dirinya. Sebagaimana contoh, Allah SWT berfirman tentang Adam as.
”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Tha ha: 115)
Dorongan-dorongan kejahatan itu sendiri pada dasarnya berasal dari insting manusia, yang sebagiannya adalah kebutuhan dasar yang memberikan vitalitas dan dinamika kehidupan kepada manusia. Insting seksual, misalnya, pada kadar tertentu dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia. Akan tetapi, ia menjadi kejahatan saat tuntutan pemuasannya menjadi berlebhan dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah. Demikian pula insting berkuasa, misalnya, ia dibutuhkan untuk menciptakan kemampuan memimpin dan bermasyarakat dalam kehidupan manusia. Namun, jika kadarnya melampui batas yang natural dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah, maka ia menjadi ancaman bagi kebaikan.
Disamping itu, Ibnul Qayyim juga menjelaskan jenis syahwat yang kemudian menjadi akar dari semua bentuk dosa manusia. Adapun jenis syahwat itu adalah sebagai berikut:
Syahwat kekuasan, berarti bahwa dorongan berkuasa dalam diri seseorang begitu kuat sampai tingkat dimana ia mulai menyerap sebagan dari sifat yang hanya layak dimiliki Allah SWT. Hal ini dimulai dari yang terkecil-senang dikagumi (sum’ah), senang disanjung di depannya (riya’), dan merasa puas diri (ghuhur), sampai pada yang hal yang besar-sombong, angkuh, jabarut, mengintimidasi, dan zalim. Syahwat inilah yang kemudian mendorong manusia sampai pada tingkat yang lebih jauh lagi, yaitu syirik. Inilah dosa yang membuat Fir’aun terlaknat.
Syahwat kesetanan, berarti bahwa ada dorongan yang kuat dalam diri seseorang untuk menyerupai setan dalam berbagai bentuk perilaku dasarnya. Misalnya, memiliki sifat benci, dengki dan dendam, gemar menipu, membuat ulah dan makar, menyebarkan gosip, memfitnah, menyesatkan orang lain, dan semacamnya. Syahwat ini biasanya mempertemukan antara kecerdasan di satu sisi, dengan dorongan setan di sisi lain. Karena itu, pelakunya cenderung licik dan culas dalam pergaulan serta berwajah ganda.
Syahwat binatang buas, syahwat ini berasal dari nafsu amarah dan angkara murka, seperti api yang cenderung membakar dan membumihanguskan. Jika syahwat angkara murka bertemu dengan kekuatan fisik yang mendukung, maka lahirlah berbagai macam perilaku buruk, seperti permusuhan, debat, penjajahan, pembunuhan, tirani, penodongan, dan perkelahian.
Syahwat binatang ternak, syahwat ini berasal dari naluri binatang dalam diri manusia dan mendorongnya untuk memenuhi kebutuhan perut dan kemaluannya secara berlebihan. Penyakit syahwat ini mendorong manusia menjadi hedonis, permisif, dan berpikir jangka pendek. Dari syahwat perut lahirlah sifat-sifat serakah, rakus, memakan harta anak yatim, pelit, mencuri, korupsi, sifat pengecut, penakut, dan semacamnya. Adapun dari syahwat kemaluan lahirlah perzinaan.
Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam penyakit syahwat binatang ternak. Sebab, pemenuhannya tidak membutuhkan banyak kecerdasan, atau kekuatan fisik, atau wilayah kekuasaan. Sementara itu, syahwat binatang buas biasanya menimpa orang-orang yang kuat secara fisik, namun tidak memiliki rasa kasih, kemurahan hati, dan naluri sosial yang baik. Adapun yang terakhir, yaitu syahwat kekuasaan yang luas, dukungan pasukan militer yang kuat, rakyat yang miskin, bodoh, lemah dan tidak berdaya, serta tekologi yang tinggi dan canggih.
Kelemahan Akal dan Jiwa
Demikianlah, kita melihat bahwa kedua penyakit itu, penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa. Penyakit syubhat bersumber dari kelemahan akal sehingga penderitanya tidak memiliki ilmu dan keyakinan. Adapun penyakit syahwat bersumber dari kelemahan jiwa yang membuat penderitanya tidak memiliki kemauan yang kuat sampai pada tingkat azam (tekad). Perhatikanlah skema dibawah ini :
Kelemahan akal -> Kedangkalan ilmu -> Penyakit Syubhat
Kelemahan jiwa -> Kelemahan kemauan -> Penyakit Syahwat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar